Kamis, 19 Desember 2013

Saidina ; Karungut Mutlak Milik Kalteng

PALANGKA RAYA – Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Saidina Aliansyah saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (19/12), kepada wartawan mengatakan, baru-baru ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyerahkan 70 Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.
Dari 70 karya budaya sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia tersebut, yang diterima Kalteng adalah karungut. Sehingga, karungut dinilai sudah mendapatkan semacam hak paten dari Kemendikbud sebagai karya seni atau budaya asal Kalteng “sehingga karungut ini mutlak milik Kalteng,” ujarnya.
Dengan Karungut menjadi salah satau Warisan Budaya Tak Benda Indonesia, ini menunjukan bahwa satu persatu seni dan budaya Kalteng sudah mulai nampak dan dikenal masyarakat luas, “karya seniman Kalteng ini diakui secara Nasional dan permanen,” tegasnya.
Maka kedepan tinggal bagaimana mengaktualisasi atau mempromosikan Karungut ini agar lebih dikenal bayak orang baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasiona, ujarnya.
Lanjut Saidina, untuk melestarikan dan penguatan kesenian didaerah ini, khusunya kerungut, maka kedepan pihaknya akan membuat semacam festival karungut. Hal tersebut sebenarnya sudah dilakukan, terutama pada kegiatan Festival Isen Mulang, namun kedepan akan lebih diperluas lagi melalui berbagai kegiatan yang lainnya.
Selain itu, sesuai dengan surat edaran Gubernur untuk membuyikan musik tradisional khas Kalteng. Hal tersebut dinilai sangat relevan dalam melestarikan seni dan budaya Kalteng antaralain karungut, sehingga ditempat-tempat umum, di ruang-ruang publik karungut dapat didengar.
Untuk itu, kedepan diharapkan kepada seluruh elemen masyarakat Kalteng, khusunya para pelaku seni atau seniman untuk secara bersama-sama melestarikan dan mempopulerkan kesenian jenis ini, lanjutnya.
Tidak hanya itu, kepada para senima atau pelau seni juga diharapkan dapat terus menggali seni dan budaya lokal yang belum terangkat dengan cara terus mengangkat dan mempopulerkan seni dan budaya tersebut.
Diungkapkan Saidina, untuk mengangkat dan mendapatkan sertifikasi dari Kementrian Pendidikan dan Pariwisata sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia memang tidaklah mudah, namun dengan telah mendapatkan sertifikasi atau pengakuan tersebut, maka orang lain tidak mudah untuk mengakuinya atau mengklaim kesenian atau budaya tersebut milik mereka.
Untuk itu, maka tim ahli atau tim peneliti dari Pusat juga tidak mudah dalam merumuskan atau menentukan bahwa seni atau budaya tersebut merupakan berasal atau milik suatu daerah tertentu, ujarnya.
Lanjut Saidina, selain karungut, kedepan berbagai kesenian, budaya, dan karya yang dinilai orijinal daerah ini dan belum dipopulerkan akan diangkat. Namun itu tidak mudah, karena harus ada sumber atau literatur yang mengatakan bahwa suatu seni, budaya, dan karya tersebut melik suatu daerah dan hal-hal yang lainnya.dkw

Senin, 16 Desember 2013

Baru 548 Pertambangan yang Clear and Clean


PALANGKA RAYA – Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Kalteng Syahril Tarigan, saat ditemui dilingkungan kantor Gubernur Kalteng, baru-baru ini, kepada wartawan mengatakan, jumlah pertambangan di Kalteng yang sudah clear and clean baru ada sekitar 548 unit atau baru sekitar 75 persen dari sekitar 719 pertambangan yang ada di daerah ini.
Sehingga masih ada sekitar 171 unit pertambangan yang masih belum clear and clean. Namun ia menilai bahwa jumlah pertambangan yang disampaiakan oleh kabupaten/kota kepada pihaknya tersebut masih belum ril atau sesuai dengan jumlah pertambangan yang ada dilapangan.
Sehingga, sesuai dengan surat edaran Gubernur Kalteng, maka bagi usaha pertambangan yang belum mendapatkan izin pinjam pakai kawasan namun sudah produksi, maka diminta agar menghentikan produksinya dahulu sampai usaha pertambangan tersebut mendapatkan izin pinjam pakai kawasan.
Sehingga, bagi perusahaan pertambangan yang belum clear and clean tersebut dimoratorium atau tidak dilayani secara atministrasinya.
Namun ia menilai, bahwa perusahaan pertambangan yang belum clear and clean tersebut adalah perusahaan yang belum produksi. Terlebih dengan harga batu bara yang mengalami penurunan akhir-akhir ini, sehingga kalaupun mereka produksi dan mengirim, maka perusahaan tersebut akan merugi.
Terlebik beberapa kendala utama sektor pertambangan di Kalteng ini antaralain adalah infrastruktur atau pengangkutannya, terlebih bagi perusahaan pertambangan batu bara yang ada di daerah pelosok “kadang-kadang tidak ekonomis karena biaya angkutnya terlalu tinggi,” ungkapnya.
Kendati demikian, kalau ada ditemukan usaha pertambangan yang belum memiliki izin pinjam pakai kawasan atau belum clear and clean namun sudah produksi, maka pemberian sanksi tersebut sesuai dengan pelanggaran terhadap UU yang telah mereka lakukan. Mengingat clear and clean tersebut merupakan evaluasi pelaksanaan UU, ujarnya.
Mengingat perusahaan yang dinyatakan belum clear and clean tersebut karena perizinanya belum sesuai dengan aturan seperti tidak sesuai dengan tata ruang dan belum mengantongi izin pinjam pakai kawasan hutan, ungkapnya.dkw


Kamis, 12 Desember 2013

Abubakar ; Program Sawit-Sapi Lebih Efisien

PALANGKA RAYA – Direktur Pembibitan Ternak Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian RI Abubakar, saat ditemui di sela-sela pertemuan koordinasi penguatan sapi/kerbau betina bunting, di Swiss-Belhotel Danum, baru-baru ini mengatakan, Kateng sangat berpotensi untuk pengembangan ternak.
Bahkan ia menilai bahwa pengembangan ternak sampi dengan program integrasi sawit-sapi yang dilakukan di beberapa perkebunan besar di daerah ini dinilai lebih efisien bila dibandingkan pengembangan ternak sapi yang dilakukan di Australia “jauh lebih efisien,” tegasnya.
Karena makanannya bisa dari daun atau pelepah kelapa sawit atau rumput-rumput yang ada di sekitar perkebunan itu. Sehingga tanpa perlu disemprot dengan racun, rumputnya akan bersih karena dimakannya.
Bahkan berdasarkan tinjauanya ke beberapa perkebunan besar swasta di daerah ini pada beberapa waktu lalu, bahwa sapi yang dikembangkan dengan program sawit-sapi tersebut sangat gebuk-gemuk, jinak, dan bersih, ungkapnya.
Selain itu, tanah di sekitar perkebunan tersebut akan subur dan bisa menghemat pupuk sekitar 30-40 persen “jadi sangat efisien. Jadi menurut saya (program sawit-sapi) ini harus kita dorong, karena di Kalteng ini sangat banyak perusahaan kelapa sawit,” tegasnya.
Untuk itu, kedepan program ini harus terus di dorong, mengingat luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia mencapai sekitar 9 juta hektare, sehingga kalau semuanya mengembangkan program sawit-sapi ini, maka jumlah ternak sapi di Indonesia akan semakin banyak.
Hal-hal yang seperti ini harus terus didorong, ujarnya, sehingga apa yang diharapkan oleh pendiri bangsa ini dapat tercapai “bahwa kita harus mandiri, harus berdiri di kaki kita sendiri. Kalau tidak kita akan terpuruk, impor trus,” ujarnya.
Sementara Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Kalteng Tute Lelo mengatakankegiatan semacam ini sangat perlu untuk dilakukan, mengingat kebutuhan kosumsi daging di Provinsi Kalteng mencapai 2.600 ekor per tahun dan masih ada yang didatangkan dari luar.
Dengan pertemuan ini diharapkan kedepan Provinsi Kalteng dapat mandiri, khusunya dalam penyediaan ternak ini dan ia menyakini bahwa hal tersebut dapat tercapai, terlebih dengan dukungan program intergasi sawit-sapi yang dilakukan oleh pihak perkebunan di daerah ini, ujarnya.
Bahkan beberapa perkebunan besar swasta di daerah ini sangat mendukung program intergasi sawit-sapi ini dan dalam waktu dekat ini mereka akan mendatangkan bibit sapi lagi dari Australia, dan beberapa perusahaan juga sudah meminta rekomendasi dari Dinas Pertanian dan Peternakan untuk mendatangkan bibi tersebut.
“Saya yakin kita bisa mencapai (mandiri), karena sekarang kita hanya kekurangan sekitar 2.600 ekor, sehingga sekitar dua tahun kedepan itu sudah bisa kita penuhi sendiri,” ujarnya.dkw
 

Karungut Menjadi Warisan Budaya Tak Benda Indonesia

PALANGKA RAYA – Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kalteng Saidina Aliansyah, saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (16/12), kepada wartawan mengatakan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) kemaren di hotel Melenium, Jakarta Pusat menyerahkan 70 Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.
Dari 70 karya budaya sebagai warisan budaya tak benda Indonesia tersebut, yang diterima Kalteng adalah karungut. Sehingga, karungut dinilai sudah mendapatkan semacam hak paten dari Kemendikbud sebagai karya seni atau budaya asal Kalteng.
“Kita bangga dan bersyukur bahwa seni budaya anak bangsa dari Kalteng ini sudah diakui secara Nasional. Sehingga kerungut sudah menjadi hak paten Kalteng, secara Nasional tercatat sudah,” ujarnya.
Namun untuk memperjuangkan ini tidak mudah, bahkan tim ahli dari Pusat juga melakukan pertemuan untuk mencek kebenaran apakah kerungut tersebut berasal Kalteng atau lain, karena Provinsi di Kalimantan ini semua ada memiliki alat musik sejenis kecapi ini.
Selain karungut, ujar Saidina, pihaknya juga mengusulkan Huma Betang atau rumah panjang agar juga mendapatkan warisan budaya tak benda, namun untuk Huma Betang tidak lolos, karena hampir semua Provinsi di Kalimantan ini memilikinya.
Namun ia juga berharap agar jenis seni dan budaya Kalteng yang lainnya kedepan juga mendapatkan hal yang serupa, karena banyak karya seniman di daerah ini yang sudah ada sejak nenek moyang dulu namun masih terpendam, ungkapnya.
Untuk itu, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata melalui UPT Taman Budaya, hari ini bertempat di hotel Luwansa Palangka Raya melaksanakan pemberdayaan seniman Kalteng 2013.
Kegiatan ini akan diikuti pratisi atau pelaku seni seperti tiater, suara, kerungut, lukis, dan musik. Ini dilakukan dalam rangka memberikan pembinaan, menyatukan pemikiran dan persepsi, serta meyerap masukan dari para seniman dalam rangka memajukan seni dan budaya di daerah ini.
Kerena pihaknya dari Disbudpar Kalteng berharap agar para seniman ini lebih eksis dan berperan dalam pembangunan Kalteng, khusunya dalam hal seni. Untuk mewujudkan hal tersebut, sehingga dalam berbagai kegiatan, para seniman ini juga selalu dilibatkan, ujarnya.dkw


Wujudkan Swasembada Daging Dengan Selamatkan Betina Produktif



PALANGKA RAYA – Untuk swasembada dan swasembada berkelanjutan khusunya di sektor daging, minimal ada 13 langkah atau upaya untuk mewujudkannya, salah satu langkah tersebut adalah penyelamatan betina produktif.    
Direktur Pembibitan Ternak Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian RI Abubakar, saat ditemui di sela-sela pertemuan koordinasi penguatan sapi/kerbau betina bunting, di Swiss-Belhotel Danum, Rabu (11/12), kepada sejumlah wartawan mengatakan, penyelamatan betina produktif tersebut dapat dilakukan dengan penguatan sapi/kerbau betina bunting.  
Sehingga, dengan kegiatan ini diharapkan dapat memotivasi masayarakat untuk mengembangkan ternak di daerah ini dengan mempercepat proses kebuntingan ternak dan menghindari pemotongan bentina bunting “karena kalau dipotong secara otomatis anak dan induknya akan hilang, sehingga populasi bukanya naik, namun malah justru menurun,” ungkapnya.
Sehingga dengan pertemuan ini akan dilakukan konsilidasi untuk mencari solusi yang efektif dalam rangka meningkatkan populasi sapi dan kerbau.
Diungkapkanya, upaya penyelamatan sapi/kerbau bentina bunting sepanjang 2011-2012 yang lalu sebanyak 69.000 ekor. Sementara pemberian insentif bagi sapi/kerbau betina bunting 2011-November 2013 ini mencapai sekitar 694.000 ekor, ungkapnya.
Dengan berbagai bantuan dan upaya tersebut sehingga ia merasa yakin bahwa jumlah populasi sapi/kerbau terus meningkat. Mengingat dalam memberikan insentif dan bantuan tersebut dilakukan dengan sangat selektif, lanjutnya.
Sementara Gubernur Kalteng Agustin Teras Narang dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan oleh Wakil Gubernur Kalteng Achmad Diran mengatakan, salah satu program utama Kementerian Pertanian dan menjadi program nasioanal periode 2010-2014 adalah program swasembada daging sapi/kerbau 2014.
Untuk mencapai program tersebut, maka jumlah populasi sapi/kerbau harus dipertahankan dan ditingkatkan, karena saat ini disinyalir telah terjadi pemotongan sapi/kerbau betina produktif yang jumlahnya cukup banyak, ujarnya.
Untuk mencegah semakin berkurangnnya jumlah populasi sapi/kerbau dilakukan dengan berbagai upaya, salah satunya dengan menyelamatkan sapi/kerbau betina produktif dan memberikan insentif kepada peternak/kelompok peternak yang telah membudidayakan sapi/kerbau betina produktif.
Dalam kesempatan itu ia juga mengatakan, pada 2013 Dinas Pertanian dan peternakan mendapatkan dukungan dana dari dana dekonsentrasi maupun tugas perbantuan sebesar Rp15.709.500.000. Dana tersebut salah satunya digunakan untuk kegiatan penguatan sapi/kerbau betina bunting yang dialokasikan di 13 kelompok sarana di sembilan kabupaten.
“Sedangkan untuk 2014 kami mendapatkan alokasi di 11 kelompok untuk di 10 kabupaten/kota,” ujarnya.
Sementara Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Kalteng Tute Lelo mengatakan, kegiatan semacam ini sangat perlu untuk dilakukan, mengingat kebutuhan kosumsi daging di Provinsi Kalteng mencapai 2600 ekor per tahun dan masih ada yang didatangkan dari luar.
Dengan pertemuan ini diharapkan kedepan Provinsi Kalteng dapat mandiri, khusunya dalam penyediaan ternak ini dan ia menyakini bahwa hal tersebut dapat tercapai, terlebih dengan dukungan program intergasi sawit-sapi yang dilakukan oleh pihak perkebunan di daerah ini, ujarnya.dkw