Jumat, 10 Januari 2014

Angka Penganguaran di Kalteng Terendah se Indonesia

PALANGKA RAYA – Pengangguran terbuka di Kalteng mencapai sekitar 21.077 orang, namun angka penganguran tersebut merupakan yang terendah di seluruh Indonesia. Karena, berdasarkan data statistik 2013, bahwa sampai Mei 2013 angka penganguaran di Kalteng hanya sebesar 1,82 persen.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Kalteng Hardy Rampay, saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (10/1), kepada wartawan mengatakan, kalau berdasarkan UU No 7/1981 tentang wajib lapor ketenaga kerjaan, maka jumlah tenaga kerja terus meningkat dan bertambah setiap tahunnya.
Tidak hanya jumlah tenaga kerja saja, namun juga perusahaan yang baru juga terus bertambah. Karena, sampai 2013 saja pertambahan perusahaan sekitar sebanyak 210 perusahaan dan tenaga kerja sekitar 2.853, ujarnya.     
Sementara kondisi umum ketenaga kerjaan di Kalteng, ujar Hardy, untuk penduduk usia kerja yaitu sebanyak 1.593.229 orang, sedangkan angkatan kerja ada sebanyak 1.000.157 orang, sedangkan penduduk yang sudah berkerja yaitu sebanyak 1.136.066 orang.
Sehingga kalau jumlah angkatan kerja tersebut dikurang dengan jumlah penduduk yang sudah berkerja, maka ada sekitar 21.077 orang yang pengangguran terbuka atau yang sama sekali tidak memperoleh pekerjaan.
Kendati demikian, bahwa angka penganguran di Kalteng tersebut merupakan angka penganguran yang terendah di seluruh Indonesia. “Itu berdasarkan data statistik 2013 ini, bahwa angka penganguaran di Kalteng sampai Mei 2013 yaitu sebesar 1,82 persen,” ujarnya.
Namun, pada beberapa bulan terakhir ini tidak menutup kemungkinan angka penganguran di daerah ini ada kenaikan seiring dengan adanya kelulusan sekolah dan  kuliah. Sehingga kalau hal-hal seperti ini tidak daiantisipasi dan dikoordinasi dengan baik, maka tidak menutup kemungkinan jumlah angka penganguran itu akan bertambah, lanjutnya.
Dalam kesempatan itu Hardy juga menyampaikan bahwa kasus perselisihan hubungan industrial seperti PHK, unjuk rasa, dan perselisihan yang bersipat massal di daerah ini hampir tidak ada terjadi, buktinya pada 2013, hanya 52 kasus dan semuanya hanya perselisiaan persorangan saja, ungkapnya.
“Jadi kesimpulannya bahwa prosepek tenaga kerja di Kalteng pada 2014 pasti dalam kondisi yang kondusif, aman, harmonis, dan berinvestasi dalam bentuk perusahaan baru terus meningkat, begitujuga dengan tenaga kerjannya,” tegas Hardy.
Kendati demikian, pihaknya tentu harus selalu waspada dan selalu jeli untuk melihat hal-hal yang berkenaan dengan perkembangan perusahaan yang ada di Kalteng ini, baik perusahaan yang bergerak disektor perkebunan, pertambangan, dan yang lainnya.
Mengingat beberapa sektor tersebutlah yang sangat besar menyerap tenaga kerja ini, sehingga untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terhadap para tenaga kerja yang ada, maka pihaknya akan selalu melakukan evaluasi, melihat, atau memonitoring terhadap hal-hal yang terjadi.
Karena dengan cepat mengetahui berbagai kondisi yang terjadi, maka akan segera juga dicarikan solusinnya, atau bagi tenaga kerja yang di PHK atau dirumahkan agar mereka dapat memperoleh haknya sesuai dengan ketentuan yang berlaku, ujarnya.dkw

Selasa, 07 Januari 2014

Perbaikan Jembatan Bajarum Telan Anggaran Rp7 Miliar

PALANGKA RAYAPerbaikan jembatan Sei Mentaya atau jembatan Bajarum yang rusak akibat tertabrak tongkang pengangkut biji besi pada Sabtu 21 Desember 2013 yang lalu memerlukan anggaran sekitar Rp7 miliar dan waktu perbaiknya diperkirakan lebih dari satu bulan.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Kalteng Leonard S Ampung saat ditemui di ruanganya, Selasa (7/1) kepada sejumlah wartawan mengatakan, karena untuk perbaikan fender atau pagar pelindung pilar jembatannya saja diperlukan angaran sekitar Rp1,5 miliar.
Sementara untuk perbaikan pilar atau pier jembatannya diperlukan anggaran sekitar Rp5,5 miliar, “itu ada dalam nota kesepakatan, saya minta itu dicantumkan” ujar Leonard.
Sementara angaran tersebut dibebankan kepada pihak perusahaan yang menabraknya yaitu PT Feron Tambang Kalimantan. Dan tidak ada angaran dari APBN, mengingat jembatan tersebut ditabrak, bukan karena bencana, “sehingga sanggup tidak sanggup mereka harus bertanggung jawab” tegasnya.
Namun pihaknya sudah melakukan pembicaraan dengan pihak PT Feron dan mereka ingin bertanggungjawab untuk memperbaiki fender dan pilar atau pier yang tertabrak tersebut dan saat ini pihaknya sudah saiap melakukan perbaikan itu dengan tanda tangan diatas materai dan mereka juga akan membiayaai itu, lanjut Leonard.
Sementara kerusakan pada jembatan tersebut yaitu fender, pilar atau pier jembatan yang retak, elastomeric bearing atau perletakan jembatan, serta pergeseran-pergeseran pada rangka jembatan tersebut akan dikembalikan.
Sementara keretakan pada tiang panjang dengan pier dan keretakan pada pier tersebut sudah diisi dengan material luluh beton khusus untuk perekat yang retak dan sekarang sudah selesai selanjutnya akan diikat dan dibungkus dengan mahkota. Sementara saat ini sedang persiapan bekistingnya.
Setelah perbaikan tersebut selesai, baru selanjutnya mengembalikan rangka jembatan yang mengalami pergeseran tersebut agar kembali pada as nya dan elastomeric bearingnya diganti agar posisinya kembali seperti semula. Setelah itu selesai, baru dilakukan tes pembebanan yang maksimal.
Sehingga pengerjaan jembatan tersebut diperkirakan lebih dari 1 bulan yang merupakan kesanggupan dari pihak perusahaan, karena material untuk perbaikan jembatan itu ada yang harus didatangkan dari luar Kalteng dengan berat sekitar 80 ton, sehingga tidak bisa diangkut menggunakan pesawat, sementara kalau menggunakan kapal, saat ini sedang gelombang tinggi “nah ini yang menjadi kendala kita,” tegasnya.
Sementara dalam perjanjian yang dibuat, batas terakhir untuk perbaikan jembatan tersebut sampai akhir Februari 2014. Namun makin cepat pengerjaannya, maka akan lebih baik “kita berharap mempercepat itu, karena itu angka-angka untuk mereka dalam nota kesepakatan saja, namun berharap akhir Januari ini sudah rampung,” ungkapnya.
Tidak hanya itu, Dinas PU Kalteng juga akan minta jaminan atau garansi dari pihak perusahaan atas perbaikan jembatan tersebut dan tim dari Kementreian PU juga diharapkan turun lagi untuk mengecek kondisi jembatan tersebut, karena dikhawatirkan setelah perbaikan itu selesai, konstruksi jembatan akan mengalami masalah.
Setelah geransi itu diterima, ujar Leonard, baru jembatan itu dibuka, “sehingga kalau terjadi apa-apa, maka mereka yang bertanggung jawab, karena mereka telah memberikan garansi,” tegasnya.dkw

Fender Jembatan se Kalteng akan Dievaluasi

PALANGKA RAYA – Dengan cukup seringnya fender atau pagar pelindung pilar jembatan di daerah ini tertabrak oleh tongkang pengangkut hasil tambang, maka untuk meminimalisir kejadian yang lebih fatal, sehingga Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Kalteng akan mengevaluasi fender jembatan di daerah ini.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Kalteng Leonard S Ampung saat ditemui di ruanganya, Selasa (7/1) kepada sejumlah wartawan mengatakan, semua fender jembatan di Kalteng, terutama yang bentang panjang dan berada di jalan Nasional dan Provinsi mau dievaluasi.
Langkah ini hari dilakukan, terutama pada jembatan bentang panjang yang sering dilalui oleh tongkang pengangkut hasil tambang, sehingga kalau fender tersebut sampai tertabrak tongkang, maka tidak sampai mengenai pilar jembatannya. Untuk itu, maka fender tersebut harus benar-benar kokoh dan kuat.
Bahkan Leonard berharap agar konstruksi pembangunan fender, khusunya di jembatan Bajarum tersebut sama dengan konstruksi membangun pilarnya. Sehingga fender ini benar-benar kokoh dan aman, sehingga kalau tertabrak oleh tongkang maka tidak sampai kena pilar jembatan, ujarnya.
Sehingga untuk memastikan agar fender tersebut benar-benar kokoh dan aman, maka pihaknya juga akan meminta evaluasi dari pihak perencanaan bali Kementerian Pekerjaan Umum.
Disisi lain, ujar Leonard, seperti jembatan Bajarum tersebut dibangun pada 1990 an, sehingga sekarang usianya jembatan tersebut sudah mencapai sekitar 23 tahun. Sementara saat pembangunanya hanya untuk lalu-lintas biasa dan belum terpikirkan kalau jembatan tersebut akan dilalui tongkang pengangkut hasil tambang seperti saat ini.
Sehingga saat ini jembatan tersebut, khusunya fendernya memang harus dievaluasi, mengingat yang namanya pembangunan tersebut selalu dinamis, lanjutnya.
Karena kalau tidak dilakukan evaluasi dan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan seperti yang terjadi pada jembatan Bajarum saat ini, maka dampaknya sangat besar, baik terhadap transportasi yang tergangu, perekonomian, keamanan, dan berbagai aspek lainnya.
“Sehingga setiap infrastruktur yang ada ini memang harus dijaga oleh semua lapisan masyarakat,” tegasnya.
Sementara pelaksanaan evaluasi fender jembatan tersebut akan dilaksanakan setelah rampungnya perbaikan jembatan Bajarum atau jembatan Sei Mentaya yang terletak di Desa Bajatrum, Kecamatan Kota Besi, Kabupaten Kotawaringi Timur tersebut.
Namun pelaksanaan evaluasi tersebut akan dilakukan secara bertahap dan diprioritaskan untuk jembatan bentang panjang atau jembatan-jembatan yang berada pada jalan Provinsi atau Nasional yang sering dilalui oleh tongkang, atau jembatan yang masih golongan C atau masih agak sempit, ujarnya.dkw

Senin, 30 Desember 2013

Kalteng Akan Mampu Penuhi Listriknya Sendiri

PALANGKA RAYA – Pembangunan beberapa pembangkit listrik di daerah ini terus dan akan dilakukan. Sehingga, kalau pembangunan tersebut sudah rampung semua, maka Kalteng dinilai akan mampu memenuhi kebutuhan listriknya sendiri.
Gubernur Kalteng Agustin Teras Narang pada acara exspos capaian kinerja makro pembangunan Provinsi Kalteng 2013, di aula Eka Hapakat, komplek kantor Gubernur Kalteng, baru-baru ini mengatakan, pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di daerah Kabupaten Pulang Pisau terus berjalan dan diharapkan pada triwulan ke III 2014 pembangunanya sudah bisa selesai.
Selain di daerah Kabupaten Pulang Pisau, juga akan dibangun pembangkin listik dengan kapasitas sekitar 2x100 di daerah Kabupaten Katingan.
Sehingga kalau pembangun pembangkit listrik tersebut semuanya selesai, maka Kalteng dinilai akan mampu memenuhi kebutuhan listriknya sendiri “karena kita akan mempunyai suplai (listrik) yang luar biasa, karena di Pulang Pisau 2x60 MW, dan di Kasongan 2x100 MW,” ujarnya.
Untuk itu sekarang sedang dibangun transmisi dari Kapuas-Palangka Raya-Katingan-Kotawaringin Timur-Kotawaringi Barat. Namun dalam pembangunan transmisi tersebut tidak terlepas dari kendala, karena ada masyarakat yang tidak ingin melepaskan tanahnya, namun hal tersebut sudah bisa ditangani sehingga transmisi bisa dibangun dan tidak ada masalah, tuturnya.
Sebelumnya Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Kalteng Syahril Tarigan mengatakan, pembangunan pembangkit listrik di daerah ini terus dilakukan, karena diharapkan pada 2014 mendatang sudah ada yang bisa dioprasikan.  
Diungkapkanya, untuk pembangunan PLTU di daerah Kabupaten Pulang Pisau, progresnya sudah mencapai sekitar 55 persen, sehingga diharapkan pada sekitar Juli 2014 mendatang satu unit sudah bisa beroprasi.
Selain pembangunan PLTU di daerah Kabupaten Pulang Pisau, saat ini juga sedang dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) di daerah Bangkanai, Kabupaten Barito Utara yang juga diharapkan pada 2014 mendatang sudah masuk ke sistim.
Sementara pihak Perusahaan Listrik Negara (PLN) saat ini juga sedang membangun jaringan tegangan tinggi dari Palangka Raya-Pangkalan Bun (Kotawaringin Barat), Barito Timur-Muara Teweh-Puruk Cahu-Kuala Kurun, ujarnya.
Sehingga, secara pembangkit, dengan selesainya PLTU di Kabupaten Pulang Pisau dan PLTG Barito Utara, maka kalau dilihat dari daya listrik yang dibutuhkan saat ini, dinilai sudah mencukupi.
Selain itu, ujar Syahril, Pemerintah juga membangun PLTU di daerah Samit dengan kapasitas 2x25 MW, serta akan dibangun PLTU di daerah Kabupaten Katingan dengan kapasitas 2x100 Mw “sekarang masih dalam proses lelang,” ujarnya.
Sehingga, kalau semua pembangunan pembangkil listrik tersebut sudah selesai, maka semua kebutuhan kelistrikan di Kalteng ini sudah terpenuhi semuannya untuk beberapa tahun kedepan.
“Hanya saja yang menjadi persoalannya adalah distribusinya, karena kalau dari transmisi, untuk saluran udara tegangan tinggi (SUTT) nya sedang dibangun. Namun jaringan tegangan menengah untuk menjangkau seluruh kabupaten, kecamatan, dan ke desa-desa masih perlu kerja keras, ungkapnya.dkw

Nilai Tukar Petani Kalteng Rendah


PALANGKA RAYA – Gubernur Kalteng Agustin Teras Narang pada acara exspos capaian kinerja makro pembangunan Provinsi Kalteng 2013, di aula Eka Hapakat, komplek kantor Gubernur Kalteng, Senin (30/12) mengatakan, nilai tukar petani di Kalteng masih rendah, masih dibawah Nasional.
Karena pada 2005-2010, nilai tukar petani Kalteng sebesar 97,00 persen, sementara Nasional sebesar 102,17 persen. Pada 2010-2012 nilai tukar petani di Kalteng sebesar 101,08 persen, sementara Nasional sebesr 103,87 persen.
Sedangkan pada 2013, yaitu sampai posisi dengan November 2013, nilai tukar petani di Kalteng sebesar 97,94 persen, sementara Nasional sebesar 105,28 persen. “Kalau kita melihat angka-angka ini, maka nilai tukar petani kita masih rendah, masih dibawah Nasional,” ungkapnya.
Hal ini terjadi antaralain karena para generasi muda sangat sedikit yang ingin bertani dan lebih banyak ingin menjadi PNS, Pejabat, dan berbagai profesi lainnya, akibatnya nilai tukar petani rendah.
“Namun kita masih bersyukur bahwa garis kemiskinan di desa itu naik, namun pendapatan mereka juga naik. Berbeda dengan yang di kota, garis kemiskinanya naik namun pendapatannya menurun, sehingga penduduk miskinya bertambah, namun kalau di desa malah berkurang,” ujarnya.
Untuk itu ia mengajak masyarakat Kalteng untuk kembali ke desa dan mau untuk bertani, sehingga minimal dapat memenuhi kebutuhannya sendiri dan tidak harus tergantung dengan orang lain.
Namun untuk mewujudkan itu memang tidak mudah, mengingat sekarang masyarakat cendrung konsumtif dan sedikit yang ingin menjadi petani, karena kebanyakan ingin menjadi PNS dan berbagai profesi lainnya meski peluangnya sangat kecil, ujar Teras.
Sementara Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kalteng Panusunan Siregar mengatakan hal yang serupa, sementara nilai tukar petani ini merupakan indikator yang menunjukan tingkat kesejahteraan petani “sehingga ini harus kita dongkrak untuk naik,” ujarnya.
Karena kalau angka nilai tukar petani tersebut masih di bawah 100 persen, maka ini menunjukan bahawa lebih besar pengeluarannya dari pada hasil pertaniannya. Untuk itu, maka petani yang ada harus lebih diberdayakan lagi agar produktivitas pertaniannya dapat meningkat.dkw